MacamAm jugak" ucap Puan Kamariah sambil tersenyum. "Biasalah, ibu. Menantu ibu mesti kacak" balas Ammar bergurau. Mardiyah mencebik. Lengan suaminya ditampar lembut. "Perasan betul abang ni" balas Mardiyah. Ammar hanya ketawa kecil. "Jomlah kita masuk. Panas dekat luar ni, kesian pulak pada cucu ibu tu. Penganugrahanjuara lomba penulisan cerpen "Cinta Pertama".yang diadakan oleh Kreativitas kita (Kreskit) di Hall kampus 2 Universitas Ahmad Dahlan(UAD) Kamis, 27 Juni 2013 tersebut, dihadiri cerpenis dari Madura Mahwi Air Tawar yang sekaligus membedah buku kumpulan cerpen tersebut . Juga hadir Wahid Eko Purwanto perwakilan dari Dosen PBSI CintaKita. "Abang, berhentikan Intan kat depan lorong tu aje lah. Intan boleh jalan sendiri ke rumah." Intan bersuara apabila kereta Perdana hitam yang dipandu sepupunya, Hafiz sudah agak hampir dengan tempat yang dimaksudkan. "Tak apalah Intan. cash. Cerpen Karangan Sarah AuliaKategori Cerpen Comar Pertama, Cerpen Mulai dewasa Lolos moderasi pada 13 October 2022 Namaku Ulfa, aku lahir di Jakarta, 19 Oktober 1997 aku yaitu momongan istimewa dari keluarga yang memiliki usaha dibidang properti yang cukup besar di Indonesia. Kedua orangtuaku mutakadim berpisah sejak aku berumur 10 tahun, sejak saat itu aku tinggal bersama dengan bundaku meski aku lalu bersama dengan bunda hanya aku masih bisa dan masih pelalah bersua dengan ayah. Momen itu aku sempat merasa bahwa kehidupan tak koneksi adil padaku karena aku tak pernah bahagia, tak pernah aku rasakan karunia sayang yang utuhnya semenjak kedua orangtuaku aku pernah mengomong pada mereka “Aku ini anak kalian mengapa kalian lain pernah cak semau wantu untukku, tapi entah mengapa sekejap-sekejap aku murka aku tidak kuasa berujar seperti itu pada mereka kelihatannya karena mereka adalah orangtua yang telah merawat dan membesarkan aku. Perian berlalu begitu cepat lain terasa waktu begitu cepat bepergian aku mulai beranjak dewasa. Waktu ini hariku mulai bercat karena kini aku mengenal seseorang yang dapat membuatku mesem dan tertawa detik bersama dia. Dia bernama Muhammad Barap, entah cak kenapa saat bersama dengannya aku merasa nyaman aku juga merasa bahagia bersama dengannya setiap kali bersama dengannya aku selalu merasa tak sangkut-paut ada masalah selama ini. Sungguhpun kenyataannya masalah di hidupku terlampau banyak dan itu membuatku tidak wasilah bahagia, doang semejak mengenal dia aku merasa sira dapat menjadi tempatku bersandar aku senggang bertemu dengannya di ujana sekolah pertemuan yang tidak disengaja, namun pertemuan itulah yang menjadi mulanya kisahku dengan dirinya. Saat itu musim dimana seleruh siswa di sekolahku diharuskan bersama dengan temannya doang aku yang memang jarang n kepunyaan teman merasa mencacau aku harus bagaimana, dan disaat kegelisahan itu cak bertengger embung dengan tanpa ragu menggenggam tanganku sambil berkata “Ulfa ayo kita datang bersama ke sekolah” ucap sulung padaku. Dan saat itu kami datang bersama ke programa sekolah intern rangka ulang hari sekolah kami. Saat itu semua alat penglihatan terpaku padaku dan sulung banyak khalayak orang yang memandang tak berketentuan, seakan baru hanya melihat keadaan aneh. Aku yang berjalan di sebelah sulung hanya boleh bepergian canggung dan tidak boleh berkutik karena aku tau bahwa banyak siswi yang tak suka melihatku berjalan bersama dengan sulung apalagi ketika itu sulung menggandeng tanganku dan berjalan beriringan dengan diriku, aku nan berjalan bersamanya hanya dapat merunduk malu karena aku tau bahwa oponen temanku tak mengesir hal itu bahkan sulung yang dahulu nampan saat itu menciptakan menjadikan para siswi tidak tak henti hentinya memandang dirinya dan aku yang mengaram hal itu namun bisa merunduk malu karena aku merasa bukan pantas ada di dekatnya, sulung yang juga anak tunggal bermula batih konglomerat nan lewat kaya di Indonesia memiliki daya tarik yang luar sahih berkarisma kepada kehidupan pergaulannya. Lain dengan diriku nan lebih menutup diri dari kebanyakan teman temanku di sekolah dan aku yang lebih tertarik dengan duniaku sendiri, biarpun begitu sulung yang naik daun dan menjadi idola di kalangan murid murid di sekolahku terutama para siswi yang terus saja mengejar wayan ke manapun dia menjauhi mereka pasti akan selalu mengikutinya. Seiring berjalannya hari aku dan wayan semakin dekat dan kami semakin sering bersama, aku nan saat itu belum ikatan roboh cinta kepada laki junjungan manapun seperti merasakan sesuatu nan aneh di diriku hatiku seperti bergetar hebat setiap kali bersama dengan dia setiap kali anda menggenggam tanganku, aku sama dengan ingin gagap ke angkasa setiap kali dia menatap mataku hatiku menjadi mulai sejak bunga. Sebagaimana saat itu kami yang sedang berada di taman sekolah membahas pelajaran bersama tak sengaja berbenturan pandang tatapan yang beliau berikan padaku punya arti tersendiri saat kami sama sama terdiam dengan manah kami masing masing dengan sengaja anda mencubit pipiku yang memang sedikit gembil aku yang kesakitan karena pipiku dicubit olehnya hanya bisa berbicara “Ih barap sakit tau kamu iseng sekali” ucaku cak sambil cemberut dan menekuk wajahku dan dengan minus rasa bersalah dia hanya berkata “Abis kau tembem sih dasar ulfa gembil” ucapnya enteng tanpa beban. Aku masih belaka menekuk wajahku sebal karena engkau tak meminta maaf padaku, melihatku yang masih sahaja cemberut menekuk wajahku dia bertutur “Maafkan aku ya tembam aku janji tidak akan mencubit pipimu lagi, ayolah mesem lagi ya ulfa jangan cemberut demikian ini kamu akan terlihat lebih elok jika wajah cantikmu itu kau pasrah cacat saja senyum manis nan tulus ayolah kumohon” ujar sulung padaku. Mendengar kata perkenalan awal sulung tadi aku mulai tersenyum tak hanya senyum aku lebih-lebih tertawa selepas melihat wajahnya nan memohon itu sangat gecul wajah baki sulung jadi terlihat lucu selepas sira memohon padaku bakal tersenyum, “Baiklah aku akan tersenyum asalkan kamu berikrar padaku jangan mencubit pipiku pun” ucapku padanya “Baiklah tembem aku berjanji padamu tembem” ucapnya padaku. “Segala apa gembil kau ini dasar item menyebalkan” teriakku di depan wajahnya dan kamu hanya tertawa “Haha item item kereta api tau kendati item banyak yang ngantri” ucapnya sambil tertawa. Melihat itu aku merasa bahagia oh tuhan apakah ini? Kok hatiku selalu bahagia dan nyaman saat bersama dengannya, apakah aku ambruk cinta padanya? Pada sulung yang baru menjadi sahabat baikku, benarkah ini haruskah aku menjarang darinya agar tak cak semau problem dikemudian hari. Atau haruskah aku mengatakan padanya bahwa aku menyayangi dirinya? Tapi akankah beliau akan menerima diriku atau terlebih sebaliknya?. Periode hariku saat ini berubah aku kini mulai belajar bakal merenggang darinya karena aku takut kecewa padanya, namun meskipun aku menjauh darinya tetap saja ia yang selalu mendekatiku sebagaimana semalam saat medium di sekolah aku memintal untuk loyal congah di dalam kelas karena aku senggang beliau pasti sedang mampu di taman panggung kami dulu absah bersama, dan benar saat aku madya berada di kerumahtanggaan kelas ada temanku yang menegurku sekali lalu berbicara “Ulfa kau bukan ke taman?” tanya temanku linda “Ah tak tali tap aku lagi tak ingin ke taman, memangnya kenapa?” tanyaku kepadanya “Itu si wayan dia sedang menunggumu ditaman di panggung protokoler kalian sparing bersama” tutur linda “Oh… Ya mengapa dia ada di sana?” tanyaku “Entahlah mana tahu dia sedang menunggumu di sana” jawab linda. Oh almalik apa iya embung menungguku di tempat normal kami berlatih? Tapi mengapa dia menungguku? Kulirik arloji yang ada di tanganku saat ini sudah lalu pukul sore selincam juga bel masuk tuntunan terakhir mengapa engkau masih menungguku, biasanya jam segini seharusnya dia sudah gemuk di dalam kelas mengapa anda masih menungguku? Aduh aku merasa tidak enak padanya bagaimana ini apa yang harus aku untuk ya? Tring… Oh handphoneku berdering oh wanti-wanti turut rupanya, tapi pecah bisa jadi ya? Dengan sigap kubuka wanti-wanti sumir yang ada di handphoneku itu dari barap? Ya tuhan ternyata engkau yang mengirim wanti-wanti padaku From Sulung “Ulfa kamu di mana? Aku sudah menggumu sejak tadi” isi wanti-wanti darinya, bagaimana ini segala yang harus aku buat? Baiklah lebih baik aku menemuinya saja daripada belakang hari aku jadi tidak enak padanya kesudahannya kuputuskan lakukan menemui sulung yang semenjana berada di taman sekolah. Dan ketika aku berdapat beliau di taman sekolah kulihat dia sepertinya kamu sudah lama menungguku kuhampiri dia yang sedang duduk di bangku taman tempat kami stereotip berlajar dan saat aku menghampirinya aku merasa tinggal bersalah padanya karena aku membuatnya menunggu sebatas jam segini kulirik arlojiku sekarang pukul petang entah mutakadim berapa lama dia menungguku dan ketika aku mewah di dekat balai-balai ujana yang sedang anda tempati aku berdeham “Embung… Apa ia sudah lama di sini?” tanyaku padanya tidak ada jawaban pecah mulutnya namun, seketika kamu beranjak mulai sejak duduknya dan langsung memelukku dengan erat aku terdiam seketika. Tak kusangka dia akan memelukku begini dan ternyata kejutan darinya belum usai. “Kamu menangis” “Sulungku menangis” suka-suka apa ini tuhan mengapa beliau menangis? Segala nan mutakadim terjadi padanya? Dengan sewaktu aku membalas pelukkan darinya dan berbisik di telinganya “Mengapa kau menangis? Apa yang terjadi padamu? Apa kau baik baik saja?” tanyaku berbisik tepat ditelinganya. Dan bukan menjawab semua pertanyaanku engkau justru terus saja menangis hingga alhasil aku memintanya untuk duduk kembali di amben taman tempatnya menungguku, tanpa melepas pelukannya padaku dia menatap mataku dan di kerumahtanggaan kedua bola matanya kulihat ada rasa takut dan kecut hati dan aku tau tatapan itu karuan ditujukan padaku. Sekejap aku terdiam karena hatiku seperti mana teriris maka itu tatapannya, ketika itu kugenggam tangannya dengan optimistis dan kumulai perundingan “Barap kau belum menjawab pertanyaanku” ucapku padanya “Ulfa mengapa kau menjarang dariku? Segala kau murka padaku?” ucapnya padaku aku hanya menggeleng. “Lewat kenapa? Kenapa kau menjauh dariku apa berbuat salah padamu?” tanya sulung padaku, “Bukan kau tidak berbuat itu sesungguhnya aku menjarang darimu bukan karena aku membenci dirimu sulung seandainya kau tau apa alasanku dia pasti menjauh dariku” ucapku padanya dengan indra penglihatan ki mawas kaca, dan entah apa yang terjadi padanya kamu refleks memelukku dan bertutur “Kumohon ulfa jangan menangis katakan semata-mata aku bukan akan meninggalkanmu aku berjanji” ucapnya padaku kesudahannya aku mengatakan apa yang kurasakan. “Sulung jujur aku tercantol padamu, tapi aku takut jika engkau akan pergi meninggalkanku” ucapku dengan meyakinkan padanya. Ternyata dia justru berkata padaku dia pun mencintaiku apalagi sejak mula-mula kami ganti mengenal. Aku terkejut mendengar jawabannya barusan setakat aku memeluknya dengan kencang hingga dia enggak boleh bergerak dan dia berkata padaku “Iya tembem aku adv pernah kamu bahagia tapi apa kau tidak bisa lebih halus sedikit denganku hah tembem” ucapnya padaku. Waktu ajal setelah pernyataan cintanya padaku aku berpikir jika kami empat mata mutakadim menjadi sejodoh puspa hati hanya ternyata aku keseleo, aku yang terlampau menyayanginya malar-malar mujur butir-butir yang membuatku kaget mendengarnya, amanat nan mengatakan sekiranya wayan berpacaran dengan anisa tara sekolahku lagi semata-mata saja aku barap dan anisa berbeda jurusan jika aku dan barap adalah anak jurusan IPA anisa ialah pesuluh jurusan IPS. Sejujurnya aku tawar hati mendengar berita itu dan aku masih berharap seandainya berita itu sahaja berita bohong yang dikarang oleh seluruh n antipoda lawan sekolahku mudahmudahan aku dan sulung menjadi jauh dan tidak terlalu cangap bersama. Saja ternyata dugaanku pelecok ternyata pemberitaan yang aku tangkap suara dari saingan temanku itu bermartabat memang sopan sekiranya wayan dan anisa berpacaran saat itu bau kencur aku tau jika ternyata anisa lah yang meminta sulung untuk menjadi kekasihnya dan yang membuatku kecewa dan sakit hati adalah sulung mengakui keinginan dan petisi anisa minus memikirkan perasaanku terlebih dahulu tuhan adilkah ini? Mengapa seperti ini disaat aku sudah lalu beriman jika dia mencitaiku juga kok malar-malar dia yang merusak kepercayaanku kepadanya dan itu membuatku merasa pengecut dan gempa bumi hati, sepulang sekolah aku duduk di taman sekolah. Masa ini kenangan manis itu berubah menjadi kosong seolah tak pernah terjadi hal sani itu di intern hidupku dan hidupnya karena pada kenyataanya sulung kini berubah. Dia bukan pula wayan yang kukenal bukan sulung nan dulu memeluku bukan wayan yang menangis karena tak bertemu denganku, dan dia bukanlah wayan yang buatku terikat tuhan aku kecewa mengapa disaat seperti mana ini disaat seharusnya aku bahagia bersamanya dia justru menghindari meninggalkanku dan memilih bersama anisa sonder perduli bagaimana persaanku. Apalagi dia tak sangkutan bertanya apakah aku mengetahaui mengenai hubungannya dengan anisa atau bukan, betapa aku kecewa atas sikapnya padaku nan seolah tak cak semau nan membuat hatiku terluka. Bahkan anda seolah tak peduli dengan perasaan dan keadaan hatiku hati yang dulu pernah bercita-cita punya hatinya sekarang jangankan bertanya memandang langsung diriku saja dia seolah lain sudi lagi memandang mataku dia tidak mau sampai-sampai sekedar bertanya bagaimana perasaanku waktu ini dia tak melakukannya. Tuhanku mengapa aku harus merasakan ini semua aku mencintainya dengan kudus aku menerimanya apa adanya aku enggak pernah memaksudkan dirinya menjadi sosok lain aku cuma mohon padanya untuk membuatku bahagia kendatipun sekedar tersenyum, belaka jika saja dia melakukannya dengan safi sungguh aku bahagia. To Sulung “Hai embung segala takrif? Aku tangkap suara ia berpacaran dengan anisa benarkah itu? Cak kenapa beliau tak perikatan cerita denganku?” tuturku kepadanya melangkaui pesan singkat. Tring To Ulfa “Maafkan aku ulfa aku tak memberitahu padamu yang sebenarnya, memang benar aku sekarang berpacaran dengan anisa tapi itu semua keinginannya bukan keinginanku. Kabarku baik bisakah kita berbenturan sepulang sekolah di yojana biasa?” balasan mulai sejak sulung di handphone tadi membuatku sakit, tapi aku mengepas mesem meski aku mesem kecut seusai mendaras pesan itu sekaligus namun aku letakan handphoneku di atas meja. Sepulang sekolah aku pula berjalan ke taman sekolahku dengan langkah loyo aku menuju tempat biasa aku duduk di taman itu tempat yang nyaman. Hingga di sana aku mengintai embung sedang duduk di dipan yang aku tuju aku tetap berjalan hingga momen aku sampai di bangku itu kulihat wayan duduk dengan memandang ke depan doang tatapan matanya kelihatan keruh sebagai halnya ia medium banyak problem melihatku dia sekalian membuka pembicaraan “Ulfa kau nomplok aku pikir kau bukan akan menclok karena kau marah padaku” ucapnya padaku, “Iya aku datang saja aku nomplok enggak lakukan bertemu denganmu aku nomplok bakal mengenang kenangan manis bersama orang yang kucintai” jawabku. Wajah sulung seperti kagat mungkin karena aku mengomong seperti itu dan sulung akhirnya berkata “Maafkan aku tapi betapa aku memang mencintaimu dengan setulus hatiku dan soal anisa aku terpaksa” tutur barap, “Benarkah itu jadi bagaimana waktu ini denganku? Dengan hatiku?” tanyaku akhirnya dia berujar “Jika kau cak hendak menunggu aku pasti akan kembali padamu” ucapnya, “Baiklah tapi jujur aku kecewa padamu” ucapku padanya. Cerpen Tulisan Sarah Aulia Facebook Sarah Aulia Sarah Aulia lahir di Jakarta 17 April 1999, siswi di SMK Muhammadiyah 15 Jakarta. Siswi kelas XII Multimedia ini memiliki hobi dan minat internal sastra dan kesenian terutama seni musik, bertekad menjadi carik, penyanyi, dan ahli n domestik bidang IT dan Multimedia. Mempunyai moto umur “ Sahabat dan anak bini yaitu pengobar,. Email sarahaulia14045[-at-] Facebook Sarah Aulia Nomor HP 085811252658 Cerpen Cinta Purwa Yang Menyakitkan merupakan cerita ringkas karangan Sarah Aulia, dia dapat mengunjungi pekarangan eksklusif penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. “Dia demen cerpen ini?, Share donk ke temanmu!” Share ke Facebook Twitter WhatsApp ” Baca Lagi Cerpen Lainnya! “ Pejuang Semenjak Pinggul Oleh Muja_Aulia Malam sedang terang disinari cahaya bulan purnama. Disertai sinaran tanda jasa yang ingin menunjukkan keindahannya. Namun, di balik keindahan itu tersembunyi keangkuhan. Persis sebagaimana sebagian makhluk. Di sebuah rumah yang Pelita Hati yang Kerontang Makanya Khoirur Rozikin 3 Desember di bumi Jatisari Awan hitam menyelimuti pagi itu. matahari seakan enggan menunjukkan kegantengan semarak putihnya. Nyanyian istiqomah pelir pipit tak juga terdengar di seantero telinga manusia, seakan Hancurnya Persahabatanku Karena Cinta Oleh Ikke Binar Vita Sari Polos ialah riuk suatu siswi di kelas Busana 2 di SMK paling kecil populer seSurabaya, anda memiliki seorang sahabat dekat bernama Putri. Mereka sudah seperti perangko dan amplop yang lengket Forgive Berpenyakitan Oleh Dini Kartika Aku masih tersenyum memandangi indah dandan bunga mawar saat bel tanda masuk berbunyi. Yah, buyar deh kegantengan pagi ini. Ditambah lagi kehadiran koteng Alfi di kelas bawah, anak gusuran berpokok Still Have Them Oleh Tricia Ofelia Wijaya Gelegar hujan membangunkan Lucy dari tidur yang setengahnya mimpi buruk. Upik itu mengerjap-ngerjapkan matanya cak bagi mengusir kantuk, dahulu melirik penanggalan nan diletakkan di atas kenap di jihat tempat tidurnya. “Hai!, Apa Beliau Suka Bikin Cerpen Juga?” “Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui pelataran yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu katib cerpen dari seluruh Indonesia telah turut menghidupkan loh, bagaimana dengan kamu?” Cerpen Karangan Devi Avrilya SaputriKategori Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati Lolos moderasi pada 22 February 2017 Hai, Namaku Ariana Putri. Biasa dipanggil Putri. Aku berumur 15 tahun dan aku duduk di kelas 10, aku bersekolah di salah satu SMA di Jakarta. Aku tinggal bersama kedua orangtuaku. Saat pertama kali MOS di salah satu SMA, aku dipandu oleh kakak kelasku, ya sekitar ada 4 orang, 2 perempuan dan 2 laki laki. Tetapi, entah mengapa aku sangat kagum dengan kakak kelas yang memanduku. Ya tuhan, jangan sampai rasa kagum ini berubah jadi cinta. Rasanya tidak mungkin kakak kelas jatuh cinta sama adik kelasnya. 3 Hari kemudian, aku sudah selesai MOS dan resmi menjadi murid di SMA ku. Aaaa, rasanya senang sekali. Aku memakai seragam putih abu abu dan siap untuk menjadi dewasa. Hari demi hari kulewati, aku bertemu dengan teman baruku, ya! Aku sudah menganggap dia sahabatku. Namanya Deana, dipanggil Dea. “Dea… ke kantin yuk!” Ucapku menganjak Dea yang tengah sibuk memainkan ponselnya “Mbbbb.. ayuk ayukk put” Balasnya yang langsung menaru ponselnya di saku baju “Lo mau pesen apa put? Biar sekalian gue pesenin” “Bakso sama es teh manis deh ya.” “Oke!” Sembari aku menunggu Dea memesan makanan untuk kita berdua, aku pun memainkan ponselku. Tak lama Dea datang dengan membawa makanan dan minuman yang aku pesan. Kami pun menikmati menu itu. Tak lama kakak kelas yang aku kagumi pun datang bersama teman temanya, 5 orang. Aku pun terpana melihatnya Astagaa.. ganteng banget lo kaak!!’ Dalam hati aku berkata sambil terus memandangnya “Eh put, makan dong! Kok malah ngeliatin kak Revan sih?” “Hah? Revan? Namanya Revan? Kok lo bisa tau sih namanya?” Kaget aku kepada Dea “Ya taulah PUTRI, lo liat dong di bajunya pojok kiri kan ada namanya” Aku hanya bisa cengengesan melihat Dea. Ya kenapa aku sampai bisa lupa ya tuhan.. Padahal cuma tinggal liat namanya di bajunya, hhhh.. mungkin karena aku terlalu kagum kali yaa sampai bisa lupa. Aku sedang membaca buku di perpustakaan, tetapi tidak sama Dea. Soalnya hari ini ia tak masuk, katanya sakit. Lagi asik membaca, tiba tiba ada yang meletakan tanganya di atas bahuku. Sontak aku terkejut dan menghadap belakang. Dan ternyataaa “Mbbb.. sorry, gue bisa pinjem bukunya gak? Soalnya dikit lagi gue ada ulangan kimia. Dan itu juga bukunya buat kelas 11, bukanya lo masih kelas 10 ya?” Dan ternyata kak Revan!! “Mbb.. iya kak boleh nih” Aku memberi buku kimia yang tadi aku baca ke kak Revan. Aku juga membaca buku kelas 11 karena aku ingin tau pelajaran pelajaran kelas 11. “Thanks” Ucap kak Revan tersenyum kepadaku dan mengambil bukunya dari tanganku. Sontak jantungku berdebar kencang, rasanya ingin copot saja. Bagaimana tidak, kakak kelas yang aku kagumi tersenyum kepadaku. Ahh rasanya gembira sekali melihat senyuman kak Revan. — “Ya, gue mau curhat sama lo boleh gak?” Ucapku pada Dea yang ingin berusaha jujur pada Dea kalau sebenarnya aku sudah mulai cinta sama kak Revan. Dea hanya mengangguk dengan apa yang aku ucapkan tadi “Sebenernyaa… gue itu mulai suka sama kak Revan, ya.” “Yaa, awalnya sih gue cuma kagum pas dia mandu waktu gue mos. Tapi lama lama gue mulai cinta sama dia ya.” Mendengar perkataanku barusan, Dea hanya terengah tak berkedip. Aku pun melambaikan tanganku tepat di depan wajah Dea. “Ya ampun Putri. Ternyata lo suka sama kak Revan.” Aku pun mengangguk. Dan tepat saat Dea bicara, kak Revan tiba tiba lewat di depan kita berdua, dia tersenyum kepada aku dan Dea. Ya tuhannn, sontak mataku melotot tak karuan, jantungku berdebar dan wajahku seperti orang ketakutan. Ya! Aku takut kak Revan mengetahuinya. Ya tuhan.. semoga saja dia tak tau apa yang barusan aku dan Dea ucapkan. “Deaaaaa!!! Lo kalo ngomong pelan pelan dongg!! Tar kalo kak Revan tau gue suka sama dia gimana ya?” Panik aku pada Dea, tetapi Dea hanya menjawab santai dan berkata “Tenang aja put, dia gak denger kok.” Balasnya. Tetapi aku tidak percaya begitu saja, aku juga harus meyakinkan ke kak Revan kalau seandainya ia menanya. Pagi yang cerah menyinari dunia, matahari sontak langsung memperlihatkan cahayanya, alarmku pun berdering pertanda aku harus bangkit dari tempat tidurku. Dengan wajah lemas aku pun langsung bangkit dari tempat tidurku kemudian langsung menuju kamar mandi. Setelah 15 menit kemudian akupun keluar dari kamar mandi kemudian menuju ruang makan untuk sarapan. Sesampai di sekolah akupun menuju ruang koridor dengan penuh ceria, ceria? Ya! Ceria karena ingin melihat wajah kak Revan yang tampan itu. Sehari tak masuk sekolah saja sudah rindu sama wajah tampanya kak Revan. Begitu aku jalan dengan santainya aku terkejut ada yang memanggilku. “Putriiiii” Aku pun sontak melihat ke arah yang memanggilku tadi. Dann ternyaataaa… “Ka revan?” Yaa!! kak revan lah yang memanggilku. Kok kak revan tau nama aku yaa?’ Dalam hatiku bertanya tanya. kak revan pun menghampiriku dengan sedikit lari. Sontak jantungku berdebar tak karuan. “Putriii” Ucap kak revan sedikit terngosan “Iyaaa kak.. Kok kakak tau nama aku?” “Dea cerita sama gue kalo lo kagum sama gue.. emang bener yaa?” Ucap kak revan dengan nada sedikit pd juga tersenyum tipis kepadaku. Sontak aku terkejut dia bertanya begitu, huhh.. Dea pasti cerita apa apa tentang aku sama kak Revan. Awas aja lo ya!! Dengan menutupi maluku, aku pun menjawab pertanyaan kak Revan dengan santai “Mbbbb…mbbbbb iyaaa aku kagum ajaaa sama kakak, kakak tuh wibawa banget pas mos-in aku duluu, hehe emang gak boleh kalo aku kagum sama kakak kelasku sendiri?” Ucap aku membela diri “Mbbb.. Iyaa si gak papa, oh iya lo tar malem ada acara gak?” “Nggak.. emang kenapa kak?” “Tar malem ikut gue yuk ke birthday party sepupu guee.. Lo mau ikut gak?” “Mbbb… boleh deh kak” “Okeyy, nih no telepon gue.. Tar lo sms yaa alamat rumah lo, tar gue jemput jam byee” Ucap kak Revan sembari memberiku kertas sedikit dan bertuliskan nomor telepon dia, dia pun langsung meninggalkanku begitu saja.. Ohh tuhannn!!! Rasanyaa senang sekali nanti malam aku pergi berdua sama kak Revan.. aaaaaaaa Jam menunjukan pukul aku pun bergegas memilih baju, sepatu, dan tas untuk pergi nanti. Setelah memilih, aku pun langsung bersih bersih dan make up. Pokoknyaa aku harus tampil cantik malam ini dengan memakai dress merah atas lutut high heels hitam dan juga tas hitam rambut yang digerai. Aku rasa aku sudah tampil cantik. Aku pun menunggu kak Revan menjemputku. 10 menit kemudian kak Revan sudah tepat di depan rumah ku dengan mobil warna hitamnya, aku pun langsung menaiki mobol kak Revan “Lo cantik banget putttt!!!” “Makasihh kak..” Jantungku ingin copot saja ya tuhannn!!! Bagaimana tidak? Saat ini aku tepat duduk di samping orang yang aku suka dan jalan berdua denganya, ditambah dipuji kecantikanku.. aaaaaaa senang sekali rasanyaa. Sesampai di Birthday Party sepupu kak Revan, aku dan kak Revan pun langsung masuk. Tak lama kemudian kak Revan pun mengajaku untuk menyantap makanan dan minuman di dekat kolam renang, aku pun mengikuti kemauan kak Revan. Dan saat ini aku dan kak Revan tengah memakan cupcakes dan segelas sirup. “Puttt..” “Mbbb” “Kamu udah punya pacar?” “Kamu?” “Mbb.. Iyaa sekarang aku mau manggil aku-kamu aja.. Daripada lo-gue kayak gak pantes aja sesama adek-kakak kelas” Ucap kak Revan “Mbb.. Kakak mau ngambil cupcakesnya lagi gak? enak tau” Jawabku mengalihkan pembicaraan. Sebab aku pun bingung ingin menjawab apa dengan kak Revan, aku sih memang belum mempunyai pacar, tapi aku bingung saja mengapa kak Revan nanya seperti itu “Jawab dulu pertanyaan yang tadi!” “Mbbb… Belum kak aku belum punya pacar.” Jawabku “Kamu mau gak jadi pacar aku?” Aku pun terkejut mendengar perkataan kak Revan. Jantungku mulai berdetak tak karuan, keringkat dinginku mulai mengucur. Aku terengah tepat di wajah kak Revan tak berkedip. Tapi ah mana mungkin kak Revan menembakku beneran, apa yang dia suka dari diriku? aku biasa biasa saja kan? Aku pun mencoba tenang menjawab pertanyaan kak revan “Ahhh kakak bercanda kalii” Kataku sambil tertawa sedikit mengalihkan keadaan “Aku gak bercanda sama sekali put.. jujur dari pertama kamu mos aku mulai tertarik dengan kamu, aku mencoba mencari tau nama kamu lewat sahabatmu, Dea sampai akhirnya ini ngedate kita yang pertama dan aku menyatakan perasaanku. apa itu salah?” Aku pun terdiam saat kak Revan berkata itu “Mbb… Iyaa kak aku juga suka sama kakak. Aku mau jadi pacar kakak.. tapi aku baru pertama kali pacaran kak, maaf kalo aku masih gugup ketemu sama kakak, dan please jangan buat aku sakit hati karena aku belum merasakan sakit karena cinta.” “Iyaaa putri kakak gak akan sakitin kamu, kakak akan jaga kamu baik baik. Kakak sayang banget sama kamu, makasih udah nerima kakak..” Ucap kak Revan tersenyum aku pun ikut tersenyum. Saat sesampai di sekolah, aku pun risih karena teman temanku menatapku tajam, aku tidak tau apa yang terjadi, begitu aku hampir sampai di kelas Dea pun menghampiriku “Cieeee yang taken sama kak Revan!! longlast yeee.. Eh lo gaktau yaa kak revan tuh ngeshare foto lo di akun sosmednya dia pake caption yang romantis gitu makanya anak anak pada ngeliatin lo karena dia tau kalo lo sekarang takenya kak revann..” “Wkwk iyaaa makasihh Dea lo juga kan yang ngebantu gue buat deket sama kak Revan.. makasih yaa ya. Gue juga gak nyangka bisa jadian sama kak Revan.” “Iyaaa Putriii sama sama!!” Sekejap aku menatap mata Dea yang seperti orang habis nangis. Aku pun bertanya kepadanya tetapi ia malah menjawab “gak papa”. Entah apa yang sedang Dea alami, seperti ada masalah tetapi ia tak mau berkata jujur kepadaku “Haiiii sayangg…” Ucap kak Revan menghampiriku “Mbbb iyaa kak..” “Putri gue tinggal yaaa!” Ucap Dea langsung pergi meninggalkanku Aneh sekali dengan tingkah Dea selama aku pacaran dengan kak Revan, dulu ia selalu menemaniku dan sekarang ia lebih memilih menyendiri dan sering tidak masuk sekolah Hubunganku sama kak Revan sudah semakin jauh, semakin aku mencintai kak Revan dan selama 9 bulan kita pacaran kak Revan sama sekali tidak pernah menyakiti aku sampai sampai saat saat ingin ke 10 bulan hubunganku dengan kak Revan mulai renggang, dia sering menolak ketika aku ajak jalan padahal dulu ia selalu siap siaga dan senang, alasan kak Revan dia sibuk lah, apa lah sampai akhirnya aku mulai curiga dengan kak Revan. Sampai akhirnya aku mengikuti kak Revan dengan motorku. Dan ternyata kak Revan berhenti di sebuah restoran besar dan dia pun masuk ke dalam, aku pun sangat curiga saat itu, aku pun mengikuti kak Revan sampai akhirnya ia bertemu seorang perempuan dan perempuan itu ternyata “DEA” yaaa aku sangat heran, mengapa kak Revan dan Dea berudaan di situ? Bermesraan segala, tetapi aku masih berpikir postif sama Dea karena ia sahabatku. Tapi kenapa kak Revan menggenggam tangan Dea dan memberi Dea seikat bunga? sontak hatiku sakit bertubi tubi, aku mulai meneteskan air mataku satu per satu dan pipiku mulai basah, mataku mulai merah, hatiku mulai sakit melihat kak Revan dan Dea seperti itu. Aku pun mendengar sedikit mereka bicara dan ternyata dia Dea dan kak Revan menjalin hubungan 1 bulan sebelumnya. Dan Dea meminta kak Revan memutuskanku, kak Revan pun mengabuli permintaan Dea, aku pun langsung pergi begitu saja dengan lari yang cukup kencang, seperti tertusuk tusuk jarum rasanya melihat berkhianatnya sahabatku sendiri, juga kak Revan, aku sangat kecewa terhadapnya, Padahal kak Revan pernah berjanji dulu untuk tidak menyakitiku. Tapi apa? begini caranya? Aku tidak terima. Aku pun bergegas pergi dari tempat itu bersama motorku, aku pun mengebut kencang sembari meneteskan air mata dan entah mengapa aku kehilangan konsentrasi, lalu aku pun menabrak truk tepat di depanku, kecelakaan itu pun terjadi. Aku pun dibawa banyak orang untuk dibawa ke rumah sakit, sesampai di rumah sakit, keluargaku pun ditelepon untuk mengabari bahwa anaknya yang bernama ARIANA PUTRI kini tengah terbaring di rumah sakit. Dengan koma yang cukup lama 15 hari karena aku pendarahan di otak, aku pun tersadar dari tidurku, tampak aku melihat seorang kak Revan yang menemaniku di rumah sakit. Aku pun mulai meneteskan air mata lagi, mengingat kejadian waktu itu. kak Revan pun tersadar kemudian melihatku yang sudah terbangun, namun aku membuang muka terhadap kak Revan. “Putri kamu udah sadar? Kakak khawatir banget sama kamu… Kamu kenapa nangis put?” Aku pun hanya terdiam dan akupun mengecek handphoneku dan ada email dari kak Revan, 15 hari yang lalu dengan isi “putri, maaf aku gak bisa lagi sama kamu, maaf aku mau sampai di sini aja hubungan kita, maaf banget aku gak bisa lanjutin lagi, maaf ya put” Aku pun membaca dan kemudian menunjukan kepada kak Revan, ia pun membaca dan kak Revan ingin menjelaskan namun aku pun menaruh telunjukku tepat di bibirnya “Ka revan.. Aku tau semuanya. kak Revan sudah jalin hubungan kan sama Dea sahabat aku satu bulan sebelumnya? Aku tau kak, terus Dea yang menyuruh kak Revan untuk mutusin aku, terus kak revan mau gitu aja.. Kakak bayangin gimana aku gak sakit hati.. Kakak pacaran sama Dea tapi masih ada hubungan sama aku.. Kakak itu laki atau bukan? kakak itu gak gentle kakak gak bisa jaga perasaan aku. Aku ini sakit hati kak. Coba kakak bayangin, kalo kakak udah gak mau jalanin hubungan sama aku, kakak putusin aku bisa kan baik baik? gak kayak gini kak caranya! aku tuh sakit hati banget kakak duain aku kayak gini, dan sekarang kakak ngapain nemenin aku di rumah sakit? Toh kakak udah gak peduli kan sama aku?” Ucap aku masih dengan suara merintih diderangi air mata yang sangat amat mengalir, begitupun dengan kak revan “Maafinn aku sayangg.. Dulu emang iya aku diam diam suka sama Dea, aku tuh suka sama Dea tapi aku sayang sama kamu, dan saat ini aku tau ternyata Dea itu gak sebaik kamu sayang.. Dea itu jahat sama kamu!! Dia ngebuat kakak suka sama dia, dia itu jahat sama kamu Dia tuh gak kaya kamu, dia itu ngebuat kakak suka sama dia. Kakak baru sadar kalo jangan pernah tinggalin orang yang kakak sayang demi orang yang kakak suka. Kakak baru sadar sayang.. maafin kakak!!” Flashback on “Ya, gue mau curhat sama lo boleh gak?” Ucapku pada Dea yang ingin berusaha jujur pada Dea kalau sebenarnya aku sudah mulai cinta sama kak Revan. Dea hanya mengangguk dengan apa yang aku ucapkan tadi “Sebenernyaa… gue itu mulai suka sama kak Revan, ya.” “Yaa, awalnya sih gue cuma kagum pas dia mandu waktu gue mos. Tapi lama lama gue mulai cinta sama dia ya.” Maafin guee ya putri, gue harus perjuangin cinta gue sama kak Revan, gue sebenernya juga suka sama kak Revan dari pertama kak Revan mos-in kita, ya gue pura-pura aja sama lo, gue pura pura dukung lo kalo lo sama kak revan, maafin guee yaa puttt.. Gue harus perjuangin cinta gue ke kak Revan!’ Ucap Dea dalam hati. Flashback Off “Maaf kak, aku gabisa nerima kakak lagi. Maaf, mending sekarang kakak pergi deh. Aku gak mau liat muka kakak lagi di sini. jujur aku sudah memaafkan kakak tapi untuk menjalin hubungan lagi aku gak bisa kak. Aku udah terlalu sakit. Maaf kak” Dengan beriringnya waktu, aku pun menginjak kelas 11. Aku meminta kepada orangtuaku untuk pindah sekolah dan aku pun pindah di Surabaya karena sekarang papaku bisnis di sana. Perlahan lahan aku melupakan kak Revan, berat rasanya melupakan cinta pertama, tapi aku harus bisa. “Maafin kakak putri, kakak udah nyakitin hati kamu, kakak menyesal. Kakak sayang banget sama kamu putri.. Maafin kakak putri.. Kakak udah ninggalin orang yang kakak sayang demi orang yang kakak suka, karena suka hanya sementara. Maafin kakak” Cerpen Karangan Devi Avrilya Saputri Facebook Devi Avrilya Saputri Cerpen Cinta Pertama Yang Menyakitkan merupakan cerita pendek karangan Devi Avrilya Saputri, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Lelaki Penunggu Senja Oleh Al-Izhar Setelah berlabuh di penghujung jalan yang merindu, ada beberapa kenangan yang bersandar di pundaknya. 12 November 1995 Pukul 700 pagi, lelaki rembulan yang sederhana sedang menunggu kekasihnya. Namun, sampai Rahasia Jodoh Ku Oleh Ayoemie Tahun 2013, Tia -teman aku saat di bangku Sekolah Dasar- berniat menjodohkanku dengan teman semasa kuliahnya dulu, Fulan namanya. Komunikasi aku dan Fulan dengan sistem ta’aruf -perkenalan dengan perantara My Happy Ending Oleh Sonia Meiliana Saat pertama melihatnya, aku begitu terpesona. Matanya bersinar jenaka, bibirnya melemparkan senyum hangat kepadaku. Dan pada saat itu juga, rasanya seluruh dunia berhenti berputar dan hanya dirinya yang kulihat. Bidadari Surga Oleh Dita Atma Nila Sari Semua orang tahu bahwa aku termasuk anak yang berbakti. Aku kuliah di sebuah PTN di kota. Orangtuaku tergolong orang yang mampu. Dalam artian mampu memenuhi semua kebutuhan dan keinginanku. Menikam Hati Part 4 Oleh Alvan Muqorobbin Asegaf Setelah Sholat duhur kami pulang. Di rumah ada Ibu. “Na baru pulang nak.” Katanya. “Iya bu”. Aku langsung masuk kamar dan menjatuhkan tubuhku di ranjang. Tepat kulihat pukul 1435 “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?" Jakarta - Cerpen atau cerita pendek adalah sebuah karya sastra yang penokohannya hanya berpusat pada satu orang serta panjang ceritanya yang hanya sedikit. Dalam penyajiannya, jumlah kata pada cerpen tidak boleh lebih dari kata atau batas panjang maksimal 20 halaman. Apa Itu Induksi Elektromagnetik? Kenali Faktor dan Contohnya Arti Produser beserta Tugas-tugasnya 7 Syarat dan Persiapan sebelum Melakukan Donor Darah Satu di antara tema yang banyak diangkat dalam kepenulisan sebuah cerpen adalah tentang cinta. Pasalnya, cerita yang dimuat di cerpen cinta dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerpen cinta biasanya mengungkapkan perasaan, kasih sayang, dan juga penderitaan yang telah dialami. Apakah kamu ingin membaca cerpen cinta yang bakal bikin baper? Berikut ini beberapa contoh cerpen cinta yang bisa dibaca saat luang dan bakal bikin kamu baper, dikutip dari laman Tambahpinter dan Made-blog, Senin 2/1/2023.Berita video highlights laga Grup B Piala AFF 2022 antara Timnas Singapura melawan Timnas Vietnam yang berakhir dengan skor 0-0, Jumat 30/12/2022 malam hari PerpisahanTidak ada yang tidak baik dari suatu perpisahan. Tuhan pasti menitipkan makna yang belum kita sadari maksud di balik semua itu. Sama seperti kisahku dengannya, yang harus kandas tanpa alasan yang kuat. Sudah hampir satu tahun setelah dia pergi meninggalkanku di sini. Mungkin, Tuhan menyelamatkan satu di antara dari kami berdua, dari orang yang tidak baik. Meski aku yakin, dalam hal ini, tidak ada yang tidak baik di antara kami berdua mengingat dulu kami saling melengkapi satu sama lain. Bagaikan mentari yang menuntun untuk berjalan, hingga seperti hujan yang membasuh semua perih. "Sepertinya kisah kita harus berakhir sampai di sini," ujarnya malam itu. Aku terdiam bak tersambar petir, mengingat sudah berapa jauh aku melangkah ke arahnya, sudah berapa asa yang aku perjuangkan untuknya. Tapi, sekarang dia memilih untuk mengakhiri semuanya. Aku pun termenung di sudut dunia. "Mungkin saja aku sudah cukup baik, tapi belum cukup baik dalam beberapa hal untukmu," gumamku dalam hati. Beberapa bulan berlalu, aku sudah bisa membiasakan hal yang aku paksakan, tidak bersamamu. Ternyata ucapanku dulu hanya omong kosong belaka. "Aaku tidak bisa hidup tanpamu". Nyatanya, tanpamu aku baik baik saja sekarang. Jadi, salah satu hal yang selalu aku ingat hingga hari ini adalah,kKetika patah hati, berdamailah dengan diri sendiri terlebih dahulu. Kelak, setelahnya kamu akan berlapang dada melihat kenyataan yang kau jalani, meski pahit. Setahun berlalu, kembari terbesit dalam benak saat dia, menyapa kita dari kejauhan. "Hey, apa kabar?" tanya dia. "Baik" jawabku sambil tersenyum. Bagiku, seburuk buruknya masa lalu, dia adalah guru yang mengajarkan aku dengan caranya yang manis dan pahit agar seseorang yang kelak aku tahu bahwa dia adalah cinta sejatiku, bisa mendapatkan aku dalam versi yang baik. Jadi, perpisahan itu bukan sesuatu yang harus disesali justru kita harus merelakan dan yakin bahwa Tuhan punya rencana-Nya sendiri untuk membahagiakan kita, dan mungkin saja kebahagiaan tersebut bukan dengan seseorang yang telah meninggalkan kita. "Aku selalu percaya bahwa kenangan sepahit apa pun itu bukanlah untuk dilupakan, tapi untuk diingat dengan persepsi yang tidak menyakitkan". Aku saat ini yang sudah beranjak dari masa Aku Bisa Menjadi Apa punAku mungkin adalah pendengar yang baik untukmu, atau malah akulah yang terbaik? Karena aku selalu mendengarkan apa apa keluhmu dengan hati, aku mendengarnya tanpa sedikitpun menyela. Namun, seringnya aku selalu mendengarkan tanpa didengarkan. Itu bukan menjadi masalah bagiku, karena setiap di akhir cerita yang kamu sampaikan, selalu terlukis senyum manis di bibirmu. Senyuman yang menandakan bahwa sedih dan tangismu sudah terurai. Sesederhana itu bahagiaku. Aneh memang. "Gimana sudah lega setelah semuanya kamu ceritakan?" tanyaku sambil mengusap air mata yang kian mengering pipinya saat itu. Aku pun bisa menjadi penolong yang hebat untukmu, bahkan aku bisa menjadi apa pun yang kamu butuh, aku bahagia menjadi orang lain yang bahkan tidak aku suka, semua itu hanya demi memastikan bahwa bahagiamu utuh. Tak masalah untukku jika harus kehilangan diri sendiri karena setidaknya akulah satu-satunya orang yang selalu menemanimu meski seisi bumi sedang tidak bersikap baik padamu. Meski singkatnya hari, sejenak terasa lama, sebentar terasa manis. Jauh di dalam hatiku, aku ingin menuntutmu bertanggung jawab atas yang kamu lakukan selama ini. Atas pencurian hatiku yang berhraga olehmu. Namun, tuntutan yang ingin aku layangkan kepadamu itu hanya sebatas omong kosong belaka. Karena kamu sebenarnya memang tak pernah mencuri hatiku. Karena pada kenyataannya aku sendirilah yang menyerahkannya kepadamu. Sukarela, tanpa paksaan. Entah itu disebut bodoh atau memang perasaan ini yang terlalu kukuh. Pada akhirnya, semua yang telah kulakukan selama ini, bagimu hanya sebuah nyanyian tanpa suara, sebuah intonasi tanpa nada. Sebuah perjuangan yang tak kau sadari, atau bahkan sebuah pengharapan yang olehku terlampau tinggi. Kamu mengakui aku memang ada, tapi hanya sekadarnya saja. Entah sampai kapan aku akan memperjuangkanmu dalam-dalam, entah berapa purnama aku harus bertahan dalam diam. Namun, percayalah aku bukannya belum menemukan waktu yang tepat untuk menyuarakan isi hati, aku hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk siap patah Tak Bisa DiulangPenyesalan akan selalu datang, tapi tidak bisa mengubah sesuatu yang telah terjadi. Merasa kehilangan setelah ia tiada adalah hal yang paling menyakitkan. Rifki dan dila telah menjalin hubungan hampir satu tahun, tetapi belakangan ini sikap Dila sedikit aneh, hingga akhirnya Rifki mengajak Dila untuk menonton film favoritnya dan Rifki menanyakan perihal keanehan sikapnya. "Dil, aku merasa kamu berubah, kamu gak sama kayak dulu. Apa aku berbuat salah kepadamu," tanya Rifki. "Nggak ada, Rif," jawab Dila singkat. Merasa tak memperoleh jawaban yang memuaskan, Rifki akhirnya mengajak Dila pulang. Sesampainya di rumah, Rifki ingat jika besok adalah hari pertama mereka Jadian. Rifki menyusun rencana untuk memberikan kejutan pada Dila. Rifki menghias taman dengan berbagai pernak pernik kesukaan Dila disertai dengan panorama lilin dan malam yang indah. Ketika persiapan telah selesai, Rifki menghubungi Dila, tapi Dila tidak ada respons. Dila yang sibuk dengan selingkuhannya mengabaikan panggilan Rifki. Hingga pukul 9, Dila tak kunjung datang dan akhirnya Dila mengirim pesan singkat bahwa ia tak bisa datang. Dengan perasaan kesal dan kecewa, Rifki memutuskan untuk pulang. Namun, di perjalanan Rifki bertubrukan dengan truk, yang menyebabkan ia meninggal seketika di tempat. Dila tahu kabar tersebut setelah keesokan harinya, tak pikir panjang, dila langsung mengunjungi kediaman Rifki. Ia melihat kekasihnya terbujur kaku seakan ia tak percaya. Kemudian ibu Rifki memeluk Dila sambil memberikan handphone Rifki padanya. Dila membukanya dan melihat video yang menunjukkan keadaan di mana Rifki mempersiapkan kejutan untuknya. Dila langsung nangis sejadi-jadinya hingga tak sadarkan diri, ia merasa bersalah telaah mengabaikan orang yang sangat mencintainya. Sejak kejadian itu, Dila menjadi wanita pendiam dan ia jarang sekali berbicara. Sumber Tambahpinter, Made-blog Dapatkan artikel contoh dari berbagai tema lain dengan mengeklik tautan ini.

cerpen cinta pertama yang menyakitkan